JAKARTA — Sebanyak 44 atlet dan 44 mentor dari kawasan Asia Pasifik akan duduk bersama dalam forum diskusi bertajuk Regional Athlete Congress di Singapura. Indonesia mengirimkan empat wakilnya, dengan tiga nama berasal dari Jakarta: Rizka Feryani Ciptaningrum, Stephanie Handojo, dan Yofan Aditya. Satu nama lainnya, Mufrida, datang dari Kalimantan Selatan.
Forum yang digagas Special Olympics International ini berlangsung selama empat hari, sejak Senin (3/8) hingga Kamis (6/8). Para peserta tidak hanya datang untuk bertukar cerita, melainkan menyusun rekomendasi kebijakan di tiga sektor utama: pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas intelektual.
Apa yang Dibahas dalam Kongres Atlet Regional Ini?
Kongres ini dirancang sebagai ruang partisipasi langsung bagi atlet disabilitas intelektual. Mereka didorong menyuarakan pengalaman pribadi yang selama ini mungkin tidak terdengar di tingkat pengambilan keputusan. Hasil diskusi diharapkan mampu memengaruhi kebijakan yang lebih inklusif di masing-masing negara.
Ketua Umum SOIna, Warsito Ellwein, yang turut melepas keberangkatan para atlet di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, menegaskan agar anak asuhnya berbicara tanpa ragu. "Apa yang paling penting menurut kalian sampaikan saja. Tidak perlu sungkan," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Bekal Sebelum Terbang ke Negeri Singa
Persiapan tidak dilakukan secara instan. Sebelum bertolak, para atlet dan pendamping mengikuti serangkaian webinar bersama pengurus Special Olympics Asia Pacific. Materi yang diberikan mencakup cara menyampaikan gagasan di forum internasional serta pemahaman isu-isu disabilitas lintas negara.
Warsito menambahkan, pertemuan semacam ini membuka ruang persahabatan antaratlet di kawasan. "Secara tak langsung akan mendorong terjalinnya persahabatan di Asia Pasifik. Hal itu amat penting untuk bisa secara bersama membentuk platform dalam menyelesaikan persoalan yang ada," katanya.
Mengapa Kehadiran Atlet Indonesia Penting?
Partisipasi Indonesia dalam forum ini bukan sekadar seremoni. Suara dari Jakarta dan Kalimantan Selatan akan mewakili kebutuhan ribuan penyandang disabilitas intelektual di Tanah Air yang kerap menghadapi hambatan akses pendidikan dan pekerjaan. Rekomendasi yang dihasilkan dari Singapura nantinya bisa menjadi acuan bagi pemangku kebijakan di tingkat nasional maupun daerah.
Selama tiga hari pembahasan, para peserta akan dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai fokus bidang masing-masing. Setiap kelompok didampingi mentor yang mendampingi proses diskusi hingga perumusan usulan konkret. Hasil kongres ini diharapkan menjadi pijakan bagi kebijakan inklusif yang lebih nyata di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.