KUPANG — Simon Petrus Kamlasi angkat bicara soal pemberian gelar adat "Sesepuh Raja Timor" kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat kunjungannya ke Nusa Tenggara Timur (NTT) akhir pekan lalu. Gelar tersebut disematkan oleh delapan raja dari Pulau Timor dalam prosesi adat di Kelurahan Lai Lai Besi Kopan, Kota Kupang.
Menurut SPK, sapaan akrabnya, penyambutan tamu secara adat memang lumrah di masyarakat NTT. Namun, ia menegaskan bahwa mengangkat seseorang ke jabatan adat tertentu adalah persoalan yang berbeda dan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Pentingnya Rembuk Tokoh Adat Sebelum Penobatan
Pria kelahiran Soe ini menilai pemberian gelar adat seharusnya melalui proses diskusi dan kajian mendalam oleh para tokoh adat. Ia khawatir keputusan sepihak justru memicu kecemburuan di antara komunitas adat yang ada.
"Kita menyambut orang itu memang ada di tradisi kita, tapi seseorang diangkat jadi jabatan tertentu, ini kan harus ada pertimbangan, harus ada kajian-kajian yang dirembukan oleh tokoh-tokoh adat," ujarnya usai menghadiri Pelantikan DPC PAN Kabupaten Kupang di Naibonat, Senin (3/8/2026).
SPK menegaskan bahwa implikasi dari keputusan yang tidak melibatkan semua pihak bisa berdampak buruk. "Jangan sampai diantara masyarakat adat kita terjadi ketersinggungan, 'Loh ini dia diajak, kok kami tidak'. Ini bisa jadi implikasi yang kurang baik diantara tokoh adat kita," tambahnya.
"Jangan Adat Dipakai Saat Butuh Saja"
Ia mengingatkan bahwa adat adalah hal yang sensitif bagi masyarakat NTT. Menurutnya, tradisi tidak boleh hanya dimanfaatkan ketika ada kepentingan sesaat, lalu diabaikan setelahnya.
"Karena ini sensitif sekali. Jangan saat kita butuh, adat kita pakai. Setelah kita siap, adat tidak kita perhatikan. Itu yang saya tidak setuju," kata jenderal purnawirawan TNI tersebut.
SPK juga mengingatkan konsekuensi spiritual bagi mereka yang tidak menghormati adat. "Kita harus hati-hati, karena kita punya keyakinan adat bisa berakibat negatif kembali ke kita. Lu salah omong adat, lu mati memang," pungkasnya.
Penobatan Jokowi sebagai Sesepuh Raja Timor terjadi di tengah karnaval budaya di Kelurahan Lai Lai Besi Kopan. Gelar tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada presiden yang tengah melakukan safari politik di wilayah timur Indonesia.