NUNUKAN — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang, menilai pembukaan rute penerbangan langsung Tarakan–Tawau akan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan. Menurutnya, akses udara yang lebih cepat berdampak langsung pada perdagangan, investasi, hingga sektor pariwisata di Kabupaten Nunukan yang selama ini terhubung erat dengan Sabah, Malaysia.
“Konektivitas udara yang semakin baik akan mempercepat mobilitas masyarakat, pelaku usaha, maupun wisatawan. Hal itu tentu akan membuka peluang ekonomi yang lebih besar, terutama bagi wilayah perbatasan seperti Kabupaten Nunukan yang memiliki hubungan sosial dan ekonomi yang sangat erat dengan Sabah,” ujar Robby.
Mobilitas Warga Nunukan–Tawau Masih Andalkan Kapal Laut
Saat ini, perjalanan warga Nunukan menuju Tawau masih bergantung pada transportasi laut. Waktu tempuhnya lebih panjang dan kerap terganggu kondisi cuaca, sehingga jalur udara dinilai mampu meningkatkan efisiensi perjalanan sekaligus memperluas kerja sama ekonomi lintas batas.
Namun, Robby mengingatkan bahwa pembukaan rute internasional tidak cukup hanya didasari keinginan memperluas konektivitas. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan layanan agar operasional penerbangan tidak berhenti setelah dibuka.
“Kita perlukan bukan sekadar membuka rute baru, tapi memastikan rute tersebut memiliki pasar yang jelas, tingkat keterisian penumpang yang memadai, serta mampu beroperasi secara berkelanjutan. Dengan begitu, manfaat ekonominya benar-benar dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” tegasnya.
995 Wisatawan Mancanegara Masuk Nunukan pada Januari 2026
Potensi permintaan rute ini mulai terlihat dari meningkatnya mobilitas lintas batas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 995 kunjungan wisatawan mancanegara ke Kabupaten Nunukan pada Januari 2026. Pada periode yang sama, tingkat penghunian kamar hotel mencapai 24,90 persen, menandakan aktivitas perjalanan di wilayah perbatasan terus berlangsung.
Menurut Robby, data tersebut menjadi indikator nyata bahwa kebutuhan terhadap konektivitas internasional memiliki basis permintaan yang kuat. Jika didukung kebijakan transportasi yang tepat, peningkatan mobilitas ini berpotensi memberi efek berganda bagi pertumbuhan sektor perdagangan, jasa, perhotelan, UMKM, serta investasi daerah.
Kajian Teknis dan Komersial Jadi Syarat Utama
Dalam Kertas Kerja II pada Forum Sosek Malindo, Pemerintah Sabah menyatakan realisasi rute Tarakan–Tawau masih memerlukan kajian lebih lanjut. Aspek kesiapan armada dan komersial penerbangan menjadi pertimbangan utama sebelum kedua negara mencapai keputusan final.
“Kabupaten Nunukan berada di gerbang terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Karena itu, peningkatan konektivitas harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat daya saing kawasan perbatasan, bukan sekadar membuka jalur transportasi baru,” katanya.
Robby berharap pembahasan antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia terus berlanjut hingga menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan. Apabila seluruh persyaratan teknis, operasional, dan aspek bisnis terpenuhi, penerbangan langsung Tarakan–Tawau berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltara, khususnya Kabupaten Nunukan.