Pencarian

RSUDZA Banda Aceh Resmi Mandiri Transplantasi Ginjal, Pasien Aceh Tak Perlu Lagi Rujuk ke Jakarta

Selasa, 04 Agustus 2026 • 00:19:15 WIB
RSUDZA Banda Aceh Resmi Mandiri Transplantasi Ginjal, Pasien Aceh Tak Perlu Lagi Rujuk ke Jakarta
Tim dokter RSUDZA Banda Aceh melaksanakan operasi transplantasi ginjal ketujuh di rumah sakit tersebut, Senin (4/8/2026).

BANDA ACEH — Ketua tim transplantasi RSUP dr Cipto Mangunkusumo, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K), menyatakan tim dokter RSUDZA telah mampu bekerja mandiri. Pernyataan itu disampaikan di sela-sela operasi transplantasi ginjal ketujuh di RSUDZA, Senin (4/8/2026).

“Alhamdulillah. Hari ini kita sudah melaksanakan transplantasi ke-7 di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin ini. Kita dari RSUP dr Cipto Mangunkusumo menyatakan bahwa tim transplantasi dari rumah sakit ini sudah bisa mandiri,” kata Nur Rasyid di Banda Aceh.

Ia menjelaskan, seluruh sumber daya manusia dan alat pendukung untuk transplantasi ginjal kini tersedia di RSUDZA. Konsultasi lanjutan dengan tim RSUP dr Cipto Mangunkusumo cukup dilakukan secara daring.

Kesinambungan Jadi Pekerjaan Rumah Berikutnya

Meski dinyatakan mandiri, Prof. Nur Rasyid mengingatkan RSUDZA menjaga ritme pelaksanaan operasi. Transplantasi ginjal, kata dia, tidak bisa dilakukan hanya setahun sekali agar hasilnya optimal bagi pasien.

“Mungkin yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan selanjutnya oleh RSUDZA adalah kesinambungan. Jadi transplantasi ginjal ini tidak bisa setahun sekali misalnya. Jadi kalau bisa dikerjakan lebih teratur, tentu hasilnya akan lebih baik,” ujarnya.

Dengan status baru ini, masyarakat Aceh tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan cuci darah, peritoneal dialisis, hingga transplantasi ginjal. Ketiga layanan tersebut kini dapat diakses di RSUDZA.

Perjalanan 10 Tahun: Dari Operasi Pertama Hingga Deklarasi Mandiri

Direktur RSUDZA, Muhazar, menyebut transplantasi ginjal merupakan program unggulan rumah sakit milik Pemerintah Aceh yang dimulai sejak 2016. Keberhasilan operasi ketujuh menjadi tonggak penting karena tidak lagi membutuhkan pendampingan tim dari Jakarta.

“Alhamdulillah, kita sukses melaksanakan operasi transplantasi ginjal ketujuh sehingga saat ini RSUDZA dinyatakan telah mandiri untuk melaksanakan transplantasi ginjal tanpa perlu ada pendampingan lagi dari Tim RSUP dr Cipto Mangunkusumo,” kata Muhazar.

Sepanjang 2016 hingga 2026, RSUDZA telah menangani tujuh pasien dengan pendonor dari keluarga terdekat. Operasi pertama dilakukan pada 1 Agustus 2016 terhadap Yanes Repelita dengan pendonor Zuliman, disusul Handriyani bersama pendonor Liliyani pada 1 Agustus 2017.

Selanjutnya, Muharuddin dengan pendonor Sri Muliana ditangani pada 9 Juli 2018, lalu Sholahuddin Ritonga bersama Yulis Ratna Sari pada 29 Juli 2019. Prosedur berlanjut pada 9 Maret 2020 untuk Darul Aman dengan pendonor Kahfi Ilman, kemudian Iswahyudi bersama Roslinda pada 21 Desember 2025, dan Muhammad Ikhlas dengan pendonor Intan Zahara pada 3 Agustus 2026.

Dukungan Gubernur dan Kesiapan Tim Subspesialis

Muhazar menambahkan, konsistensi layanan medis berteknologi tinggi ini tidak lepas dari dukungan penuh Gubernur Aceh. Perhatian khusus diberikan melalui penguatan infrastruktur medis modern, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kebijakan strategis untuk mempermudah akses masyarakat terhadap layanan rujukan tingkat lanjut.

Keberhasilan serangkaian tindakan kompleks tersebut juga ditopang kesiapan tim dokter spesialis dan subspesialis nefrologi, urologi, serta anestesi. Tenaga medis profesional dan terlatih di RSUDZA terus berinovasi memberikan pelayanan terbaik bagi pasien gagal ginjal kronis di Serambi Mekkah.

Bagikan
Sumber: aceh.antaranews.com

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks