BANGGAI — Sebanyak 21 ekor burung maleo menjalani pemeriksaan kesehatan rutin di fasilitas konservasi milik PT DSLNG di Kabupaten Banggai, Selasa (28/7). Dari hasil pemeriksaan fisik yang meliputi mulut, paruh, berat badan, hingga suhu tubuh, dua ekor di antaranya diketahui sedang mengalami diare dan telah diberikan penanganan medis.
Corporate Communication Manager DSLNG, Adhika Paramanandana, mengatakan pemeriksaan kesehatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan menjaga kelangsungan hidup maleo di luar habitat aslinya. Fasilitas konservasi eksitu yang diresmikan pada 5 Juni 2013 itu menjadi yang pertama di Indonesia yang berhasil menetaskan generasi Fillial 1 dari indukan yang dikembangbiakkan di kandang penangkaran.
127 Maleo Dilepasliarkan ke Suaka Margasatwa Bakiriang
Sejak beroperasi lebih dari satu dekade, fasilitas konservasi di area kilang DSLNG ini telah melepasliarkan 127 anak burung maleo ke habitatnya di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai. Angka tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan program konservasi yang melibatkan pihak swasta dan pemerintah daerah.
"Konservasi maleo eksitu adalah upaya kami dalam meningkatkan populasi maleo yang terancam punah di alam liar. Sebagai perusahaan LNG yang beroperasi di Sulawesi Tengah, upaya ini merupakan salah satu komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan hidup," ujar Adhika dalam keterangan tertulis yang diterima di Palu, Senin.
Penanganan Medis untuk Maleo yang Mengalami Diare
Dokter hewan dari tim BKSDA Sulteng, Anang, menjelaskan bahwa dua ekor maleo yang mengalami diare telah mendapatkan langkah penanganan yang diperlukan. Pemeriksaan rutin ini dilakukan untuk memastikan tidak ada penyakit yang diderita satwa endemik tersebut selama berada di kandang penangkaran.
"Dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan pada Selasa (28/7), secara umum kondisi 21 ekor burung maleo di setiap kandang sehat. Dua ekor di antaranya sedang mengalami diare dan telah diberikan langkah penanganan yang diperlukan," kata Anang.
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara berkala ini menjadi standar operasional dalam program penangkaran maleo. Selain memastikan kondisi fisik, tim medis juga memantau perkembangan berat badan dan suhu tubuh sebagai indikator kesehatan satwa endemik Sulawesi yang dilindungi ini.