MANADO — Ratusan umat Buddha memadati Vihara Dhammadipa Manado untuk mengikuti rangkaian ibadah Hari Asadha 2570 BE. Perayaan yang digelar Senin itu tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, melainkan pengingat akan inti ajaran Buddha tentang jalan pembebasan dari penderitaan.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kemenag Sulut, Saryono, menegaskan bahwa hakikat peringatan ini adalah upaya sungguh-sungguh untuk melepaskan diri dari lingkaran penderitaan. Ia mengingatkan bahwa sumber kebahagiaan maupun penderitaan tidak datang dari luar diri.
"Semua itu berada sangat dekat, yaitu di dalam diri kita sendiri, bukan pada orang lain. Apa pun yang kita alami, baik penderitaan maupun kebahagiaan, sesungguhnya bergantung pada kita sendiri," kata Saryono di hadapan jemaat.
Makna Hari Asadha: Titik Awal Penyebaran Ajaran Buddha
Dalam ceramah Dhamma yang disampaikan YM Bhante Cittasanto, Hari Asadha diposisikan sebagai tonggak sejarah penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Momen ini menandai khotbah pertama Sang Buddha di Taman Rusa Isipatana kepada lima pertapa, yaitu Kondañña, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.
Peristiwa tersebut juga menjadi fondasi berdirinya Sangha sebagai organisasi Buddhis pertama. Bhante Cittasanto menekankan bahwa peringatan ini semestinya menjadi pendorong untuk menghidupkan ajaran dalam tindakan nyata setiap hari, bukan berhenti pada seremoni belaka.
"Umat harus mengimplementasikan nilai-nilai Dhamma atau kebenaran mutlak dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya menegaskan pesan utama peringatan tahun ini.
Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Menuju Nibbana
Khotbah pertama Sang Buddha yang diuraikan Bhante Cittasanto berpusat pada Empat Kebenaran Mulia. Ajaran dasar ini mencakup kebenaran tentang penderitaan (dukkha), sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, serta jalan menuju lenyapnya penderitaan.
Menurut Bhante Cittasanto, kebahagiaan tertinggi atau Nibbana hanya dapat dicapai melalui praktik Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang dikenal pula sebagai Jalan Tengah. Jalan ini menjadi panduan etis dan mental bagi umat dalam menjalani kehidupan yang seimbang.
Harapan Kemenag: Sulut Tetap Harmonis dan Damai
Melalui peringatan ini, Saryono menyampaikan harapan agar perayaan Hari Asadha mampu memperkuat keyakinan umat dan meningkatkan praktik Dhamma. Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat berkontribusi pada terwujudnya kehidupan yang damai dan harmonis di Sulawesi Utara.
"Peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat keyakinan, meningkatkan praktik Dhamma, serta mewujudkan kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh kebahagiaan," kata Saryono menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Buddha.
Rangkaian ibadah tersebut turut dihadiri YM Bhante Somlone Vilaipon Thera, penyelenggara Hindu dan Buddha, ketua yayasan, ketua vihara, serta umat Buddha Kota Manado yang mengikuti prosesi dengan khidmat.