DENPASAR β Panen yang melimpah di sejumlah sentra produksi disebut BPS Bali menjadi faktor utama terjadinya deflasi pada Juli 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren tiga tahun sebelumnya yang selalu mencatat inflasi pada bulan yang sama.
Deflasi Juli 2026 Jadi yang Pertama dalam Empat Tahun Terakhir
Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan mengungkapkan, pola deflasi tahun ini berbeda dengan periode yang sama pada 2023, 2024, dan 2025. Pada tahun-tahun itu, Juli selalu diakhiri dengan inflasi masing-masing 0,34 persen, 0,10 persen, dan 0,32 persen.
βJuli itu 4 tahun terakhir baru kali ini deflasi,β ujarnya di Denpasar, Senin.
Cabai Rawit dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Andil Terbesar
Dari sembilan komoditas utama yang mengalami penurunan harga, cabai rawit memberi andil paling besar terhadap total deflasi. Komoditas ini tercatat deflasi 31,08 persen dengan kontribusi 0,18 persen.
Bawang merah menyusul dengan deflasi 19,67 persen dan andil 0,16 persen. Adapun cabai merah deflasi 29,38 persen dan berkontribusi 0,08 persen terhadap deflasi keseluruhan.
Komoditas lain yang turut menekan angka inflasi adalah daging ayam ras (deflasi 3,01 persen), buncis (33,38 persen), daging babi (3,71 persen), tomat (16,03 persen), kacang panjang (26,13 persen), serta jeruk (8,86 persen).
Mengapa Kelompok Makanan Dominan Pengaruhi Deflasi?
Agus menjelaskan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami deflasi hingga 2,34 persen dan memberi andil 0,75 persen terhadap deflasi bulanan. Bobot konsumsi yang besar membuat pergerakan harga di kelompok ini sangat menentukan.
βBerbeda dengan transportasi pesawat kan tidak semua masyarakat mengkonsumsi, makanya makanan, minuman, dan tembakau paling dominan memberi pengaruh,β tuturnya.
Singaraja Catat Deflasi Terdalam, Denpasar Paling Landai
Secara bulan ke bulan, penurunan harga terdalam terjadi di Singaraja dengan deflasi 0,91 persen. Disusul Badung 0,59 persen, Tabanan 0,56 persen, dan Denpasar 0,30 persen.
Meski mengalami deflasi bulanan, BPS Bali menegaskan kondisi tahun ke tahun masih mencatat inflasi. Per Juli 2026 terhadap Juli 2025, inflasi tercatat 2,42 persen.
Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mengalami deflasi 0,66 persen, namun andilnya terhadap deflasi total hanya 0,06 persen. Sementara kelompok pengeluaran lainnya masih mencatatkan kenaikan harga.