DENPASAR — Deflasi 0,51 persen pada Juli 2026 menjadi catatan historis bagi perekonomian Bali. Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyebut, dalam empat tahun terakhir, bulan Juli selalu diakhiri dengan inflasi, mulai dari 0,34 persen pada 2023, 0,10 persen pada 2024, hingga 0,32 persen pada 2025.
"Juli itu 4 tahun terakhir baru kali ini deflasi. Faktor pendorongnya karena panen melimpah, kemudian bobotnya (kebutuhannya) tinggi pas di komoditas-komoditas itu," ujarnya di Denpasar, Senin.
Andil Terbesar dari Kelompok Makanan dan Minuman
Tekanan penurunan harga paling dalam berasal dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mencatat deflasi 2,34 persen. Kelompok ini memberikan andil sebesar 0,75 persen terhadap total deflasi bulanan di Pulau Dewata.
Kelompok kedua yang turut menahan laju inflasi adalah Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan deflasi 0,66 persen, meski andilnya hanya 0,06 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran lainnya masih mencatatkan kenaikan harga.
9 Komoditas Utama Penyumbang Penurunan Harga
BPS Bali merinci setidaknya ada sembilan komoditas pangan yang menjadi penopang utama deflasi. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 31,08 persen dan andil 0,18 persen, disusul bawang merah yang mengalami deflasi 19,67 persen dengan andil 0,16 persen.
Komoditas lainnya yang turut menekan angka inflasi adalah cabai merah dengan deflasi 29,38 persen dan andil 0,08 persen, serta daging ayam ras yang turun 3,01 persen dengan andil 0,08 persen. Buncis, daging babi, tomat, kacang panjang, dan jeruk juga tercatat mengalami penurunan harga dengan andil masing-masing di bawah 0,05 persen.
Mengapa Harga Pangan Justru Turun Saat Permintaan Tinggi?
Agus Gede menjelaskan bahwa komoditas pangan seperti beras, sayur, dan cabai dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat. Hal ini berbeda dengan komoditas lain seperti tiket pesawat yang tidak dikonsumsi semua orang.
"Makanan, minuman, dan tembakau paling dominan memberi pengaruh karena dikonsumsi banyak orang," tuturnya.
Singaraja Catat Deflasi Terdalam, Bagaimana Wilayah Lain?
Secara spasial, deflasi bulan ke bulan terdalam terjadi di Kabupaten Buleleng dengan pusat kota Singaraja yang mencatat penurunan 0,91 persen. Disusul Kabupaten Badung dengan deflasi 0,59 persen, Tabanan 0,56 persen, dan Kota Denpasar yang lebih landai di angka 0,30 persen.
Meski secara bulanan terjadi penurunan harga, BPS Bali menegaskan bahwa secara tahun kalender atau year on year, perekonomian Bali masih mengalami inflasi. Pada Juli 2026 terhadap Juli 2025, inflasi tercatat sebesar 2,42 persen.