MAKASSAR — Penurunan inflasi ini tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Sulsel yang berada di angka 111,86. Penghitungan BPS dilakukan di delapan kabupaten/kota, meliputi Makassar, Parepare, Palopo, Bulukumba, Bone, Wajo, Sidenreng Rappang, dan Luwu Timur. Secara tahun kalender (year to date), inflasi Sulsel hingga Juli 2026 tercatat sebesar 2,36 persen.
Deflasi Bulanan dan Penyebabnya
Meski secara tahunan masih mengalami inflasi, kondisi bulanan justru menunjukkan tren sebaliknya. Sulawesi Selatan mencatat deflasi sebesar 0,18 persen pada Juli 2026 jika dibandingkan dengan Juni 2026.
BPS menyebut penurunan harga bulanan ini dipicu oleh melandainya harga sejumlah komoditas hortikultura dan bahan pangan. Beberapa di antaranya adalah tomat, cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, cabai merah, jagung manis, cumi-cumi, hingga kacang panjang yang harganya turun di pasar.
Komoditas Pemicu Inflasi Tahunan
Berbeda dengan pola bulanan, tekanan inflasi tahunan masih didominasi oleh kenaikan harga sejumlah barang. BPS mencatat emas perhiasan, bensin, ikan layang, sigaret kretek mesin, nasi dengan lauk, minyak goreng, daging ayam ras, telepon seluler, cabai merah, angkutan udara, hingga pelumas mesin menjadi penyumbang utama inflasi sepanjang Juli 2026.
Dari sisi kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 9,78 persen. Disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,42 persen, transportasi 3,15 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,54 persen.
Andil Terbesar dari Makanan dan Tembakau
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,81 persen. Sektor ini diikuti oleh perawatan pribadi dan jasa lainnya yang menyumbang 0,79 persen, transportasi 0,39 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27 persen.
Sementara itu, kelompok perumahan, perlengkapan rumah tangga, informasi dan komunikasi, pendidikan, kesehatan, hingga rekreasi turut memberikan kontribusi terhadap inflasi meski dengan porsi yang lebih kecil. Satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan adalah pakaian dan alas kaki, yang turun sebesar 0,26 persen.
Pekerjaan Rumah bagi Pemerintah Daerah
Melandainya inflasi pada Juli menjadi sinyal positif bagi perekonomian Sulawesi Selatan. Namun, masih tingginya angka inflasi di Luwu Timur yang mencapai 3,50 persen dengan IHK 113,54 menunjukkan bahwa stabilisasi harga pangan dan kelancaran distribusi komoditas strategis belum merata.
Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan harga di daerah penyangga industri dan pertambangan masih perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Perbaikan rantai pasok dan intervensi pasar di wilayah-wilayah dengan inflasi tinggi menjadi tantangan yang harus segera diatasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga. (nabilah/B)