MANADO — Kendati inflasi tahunan masih terkendali di bawah 3 persen, BPS mencatat adanya deflasi bulanan yang cukup dalam. Pada Juli 2026, Sulawesi Utara mengalami deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 1,05 persen, namun inflasi year-to-date (y-to-d) hingga bulan ketujuh tahun ini sudah mencapai 3,38 persen.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Watekhi, menjelaskan bahwa inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Dari empat daerah cakupan IHK di Sulut, seluruhnya tercatat mengalami inflasi tahunan.
Pendidikan dan Perhiasan Jadi Pemicu Utama Inflasi
Kelompok pendidikan menjadi penyumbang tekanan terbesar dengan inflasi mencapai 11,67 persen secara tahunan. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 9,66 persen, serta transportasi yang menguat 5,81 persen.
“Pada Juli 2026, Provinsi Sulawesi Utara mengalami inflasi year-on-year sebesar 2,53 persen dengan IHK 112,27. Inflasi ini dipicu oleh kenaikan harga pada berbagai kelompok pengeluaran, sementara Kota Manado menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Sulawesi Utara sebesar 3,52 persen,” ujar Watekhi dalam rilis resminya.
Komoditas yang paling menyumbang andil inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, biaya akademi/perguruan tinggi, ikan malalugis, ikan cakalang, hingga bensin dan minyak goreng. Kenaikan harga mobil, sepeda motor, serta jasa pemeliharaan kendaraan turut mendorong laju inflasi di sektor transportasi.
Harga Cabai dan Daging Babi Justru Turun
Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan justru menahan laju inflasi. Cabai rawit, tomat, daging babi, bawang merah, dan beras tercatat memberikan andil deflasi secara tahunan. Komoditas lain seperti minuman ringan, terong, lemon, cumi-cumi, jahe, wortel, serta telur ayam ras juga membantu menekan angka inflasi di Sulut.
Kondisi ini menarik karena beras yang biasanya menjadi penyumbang inflasi terbesar, kali ini justru menjadi penahan laju kenaikan harga di Sulawesi Utara.
Manado Paling Tertekan, Minut Paling Stabil
Dari data BPS, disparitas inflasi antardaerah di Sulut cukup terlihat. Kota Manado mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,52 persen, disusul Kota Kotamobagu 1,67 persen, Kabupaten Minahasa Selatan 1,08 persen, dan Kabupaten Minahasa Utara yang hanya 1,00 persen.
Tingginya inflasi di Manado sejalan dengan statusnya sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan terbesar di Sulawesi Utara. Sementara itu, Minahasa Utara yang berbatasan langsung dengan Manado justru mencatat inflasi paling rendah, menunjukkan perbedaan pola konsumsi dan rantai pasok antardaerah.