MEDAN — Harga cabai rawit di pasaran menjadi pendorong utama laju inflasi Sumatera Utara pada Juli 2026. Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan komoditas dapur ini memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,17 persen dari total inflasi 0,19 persen.
Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, mengungkapkan meski menjadi biang kerok inflasi bulan ini, secara kumulatif sepanjang tahun 2026 harga cabai rawit justru masih mencatat deflasi cukup dalam.
"Kalau dilihat secara kumulatif tahun 2026, cabai rawit justru masih mengalami deflasi sebesar 22,02 persen," ujarnya dalam rilis Berita Resmi Statistik di Medan, Senin (3/8/2026).
Delapan Kelompok Pengeluaran Alami Kenaikan Harga
BPS mencatat inflasi bulanan Juli 2026 dipengaruhi oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan inflasi tertinggi mencapai 0,32 persen.
Kelompok ini menyumbang andil sebesar 0,13 persen terhadap inflasi bulanan. Kondisi ini menegaskan bahwa gejolak harga pangan masih menjadi pekerjaan rumah utama pemerintah daerah.
Sementara itu, untuk laju inflasi tahunan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara yoy, yakni 8,66 persen.
Gunungsitoli Paling Tertekan, Medan Paling Landai
Tekanan harga tidak merata di seluruh wilayah Sumatera Utara. Kota Gunungsitoli menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi pada Juli 2026, mencapai 0,58 persen.
Sebaliknya, Kota Medan mencatat inflasi bulanan terendah di angka 0,05 persen. Untuk skala tahunan, Gunungsitoli juga memimpin dengan inflasi 6,36 persen, sementara Kabupaten Karo menjadi daerah dengan laju inflasi terendah, yakni 3,83 persen.
Perbedaan angka ini menunjukkan disparitas daya beli dan rantai distribusi pangan yang masih timpang antara pesisir dan kepulauan.
Kontras dengan Deflasi Nasional
Kondisi inflasi di Sumatera Utara bertolak belakang dengan tren nasional. Secara nasional, pada Juli 2026 terjadi deflasi 0,14 persen secara bulanan, sementara inflasi tahunannya tercatat 2,88 persen.
Artinya, laju inflasi tahunan Sumut berada 1,32 poin persentase di atas rata-rata nasional. Capaian ini menjadi sinyal bagi pemerintah provinsi untuk menggencarkan operasi pasar dan stabilisasi harga pangan, khususnya cabai rawit.