BANDUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat kinerja perdagangan eksternal yang impresif pada paruh pertama 2026. Total nilai ekspor mencapai 19,60 miliar dolar AS, melonjak 5,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara impor hanya tercatat 5,81 miliar dolar AS.
Kepala BPS Provinsi Jabar Margaretha Ari Anggorowati merinci, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung ekspor dengan kontribusi mencapai 98,66 persen. Disusul sektor migas 0,73 persen, pertanian 0,61 persen, dan pertambangan yang hanya 0,01 persen.
Impor Bahan Baku Dominasi Pembelian dari Luar Negeri
Penurunan impor sebesar 3,45 persen secara year on year (yoy) dinilai sebagai sinyal positif bagi penguatan industri dalam negeri. Dari total pembelian barang luar negeri, sebanyak 80,41 persen di antaranya merupakan impor bahan baku dan bahan penolong untuk kebutuhan industri lokal.
Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di Jawa Barat tidak bergantung pada barang jadi impor, melainkan lebih banyak menyerap bahan baku untuk diolah kembali menjadi produk bernilai tambah tinggi.
AS Jadi Mitra Dagang Terbesar, Defisit Masih Tersisa dengan China
Secara bilateral, Jawa Barat mengantongi surplus terbesar dari transaksi perdagangan dengan Amerika Serikat yang mencapai 3,08 miliar dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Filipina dengan surplus 1,72 miliar dolar AS, disusul Vietnam 1,04 miliar dolar AS, dan Thailand 881,79 juta dolar AS.
Meski secara keseluruhan neraca perdagangan Jabar surplus, defisit masih tercatat pada dua negara mitra utama. Defisit terbesar terjadi dengan Tiongkok yang mencapai 1,19 miliar dolar AS, serta Taiwan sebesar 53,84 juta dolar AS.
Apa Dampaknya bagi Perekonomian Jabar?
Surplus neraca perdagangan yang masif ini menjadi indikator kuat daya saing produk Jabar di pasar global. Dengan nilai ekspor yang terus tumbuh, sektor industri manufaktur dipastikan menjadi penyerap tenaga kerja utama sekaligus penyumbang devisa terbesar bagi kas daerah.
Kinerja positif ini juga mencerminkan pemulihan ekonomi pasca perlambatan global. Para pelaku industri di kawasan Karawang, Bekasi, Purwakarta, dan sekitarnya diproyeksikan terus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar internasional.