BANDUNG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat kinerja perdagangan luar negeri yang impresif pada paruh pertama tahun ini. Surplus neraca dagang mencapai 13,79 miliar dolar AS, sebuah angka yang mencerminkan daya saing produk lokal di pasar global.
Total nilai ekspor Jabar pada Semester I-2026 melonjak 5,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menembus angka 19,60 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini terjadi di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Industri Manufaktur Mendominasi 98,66 Persen Pangsa Ekspor
Kepala BPS Provinsi Jabar Margaretha Ari Anggorowati merinci, sektor industri manufaktur masih menjadi tulang punggung ekspor daerah. Kontribusinya mencapai 98,66 persen dari total nilai ekspor, diikuti sektor migas 0,73 persen, pertanian 0,61 persen, dan tambang yang hanya 0,01 persen.
"Kontribusi ekspor Januari-Juni 2026 masih didominasi oleh ekspor sektor industri manufaktur sebesar 98,66 persen, diikuti sektor migas 0,73 persen, sektor pertanian 0,61 persen, dan sektor tambang 0,01 persen," kata Ari di Bandung, Senin.
Impor Bahan Baku Dominasi Total Pembelian Luar Negeri
Dari sisi impor, akumulasi pembelian barang luar negeri Jabar pada Januari-Juni 2026 berhasil ditekan di angka 5,81 miliar dolar AS. Angka ini turun 3,45 persen secara tahunan.
Yang menarik, sebanyak 80,41 persen dari total impor tersebut merupakan bahan baku atau bahan penolong untuk industri dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas produksi manufaktur lokal tetap bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri, namun tetap mampu menghasilkan nilai tambah yang jauh lebih besar.
Surplus Terbesar dari AS dan Filipina, Defisit dengan Tiongkok
Secara bilateral, Jabar mengantongi surplus perdagangan terbesar dari transaksi dengan Amerika Serikat yang mencapai 3,08 miliar dolar AS. Disusul Filipina dengan surplus 1,72 miliar dolar AS, Vietnam 1,04 miliar dolar AS, dan Thailand sebesar 881,79 juta dolar AS.
Namun, neraca perdagangan Jabar masih mencatat defisit dengan dua negara mitra utama. Defisit terbesar terjadi dengan Tiongkok yang mencapai 1,19 miliar dolar AS, serta dengan Taiwan sebesar 53,84 juta dolar AS.
Defisit dengan Tiongkok tersebut mengindikasikan tingginya ketergantungan industri Jabar pada barang modal dan bahan baku asal negeri tirai bambu tersebut. Meski begitu, secara keseluruhan, capaian surplus semester ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Jawa Barat yang selama ini dikenal sebagai lumbung industri nasional.